Apa yang ada dalam benak kita ketika kita memikirkan kata kesuksesan??
Ya, udah bisa ditebak. Kesuksesan seringkali identik banget dengan apa yang disebut kekayaan, ketenaran, berhasil melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dan lain sebagainya.
Tapi, apakah pandangan Tuhan kita terhadap kesuksesan? Apa yang ada di benak-Nya ketika dikaitkan dengan kata kesuksesan?
Waktu gw lagi bertanya-tanya tentang yang satu ini, mentor gw yg jg koko gw ngomong ke gw kira-kira begini: “ keberhasilan di mata Tuhan ga nuntut kita untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, keberhasilan di mata Tuhan adalah ketika kita mengerjakan hal-hal yang biasa dengan luar biasa.” Gimana reaksi kita abis ngedenger statement seperti ini? Beda banget kan sama arti kesuksesan yang biasa kita denger?
Biar coba gw ambil contoh dari salah satu tokoh Perjanjian Lama untuk ngegambarin hal ini lebih lanjut. Tokohnya adlh Raja dari Israel yang termashyur, Raja Daud. Gw ga bisa nahan aer mata waktu renungin hidup Daud. Menurut gw dia bener2 orang yang memiliki karakter yang klop banget buat Tuhan spy bisa dipake buat jadi hamba-Nya.
Zaman dulu, sblm Daud jadi Raja, bangsa Israel sedang memimpi-mimpikan seorang pemimpin buat mereka. Orang yang nantinya berhasil dapet kedudukan ini bakal jadi orang nomor satu di Israel. Kalau di zaman sekarang orang ini pasti kedudukan dan kekuasaannya jauh lebih tinggi bahkan dari presiden AS, soalnya zaman sekarang negara-negara udah nganut paham demokrasi, tapi dulu masih belum. Zaman dulu raja punya kekuasaan mutlak. Jadi posisi raja ini bener-bener posisi teragung , terhormat, dan tertinggi, semua orang takluk sama raja.
Sebenernya, orang seperti apa sih Daud sampe Tuhan mau-maunya milih dia buat jadi raja?? Apakah dia orang yang pinter? Berkharisma? Gagah? Sudah jadi orang yang menonjol waktu Tuhan pilih dia? Biar kita telusuri beberapa kisah hidup dari Daud ini.
Waktu itu nabi Samuel disuruh Tuhan buat pergi ke rumah Isai buat ngurapin orang yang bakal jadi raja suatu saat nanti. Isai membawa semua anak-anaknya supaya diliat nabi Samuel dan ternyata, dari semua anak-anaknya, ada satu yang ditinggalin. Ya anak itu adalah anak bungsu Isai, Daud. Kalo kita pikir-pikir lebih lanjut, gila juga yah seorang bokap bisa-bisanya ninggalin seorang anak buat suatu acara yang sepenting dan sesakral ini. Klo kita jadi bapa, pasti semua anak kita bakal kita bawa ke acara yang model begitu. Ini acara pengurapan seorang raja yang bakal berkuasa di Israel! Mungkin Isai bener-bener ga kepikiran buat ngajak Daud ke acara itu, atau juga dia mau menghalang-halangi Daud buat jadi raja, well...kita ga pernah bener-bener tau.
Nah, yang berikutnya ini yang cukup ngagetin. Setelah Daud diurapi buat jadi raja, selanjutnya apa yang dia lakukan? 1 Samuel 16:19, [Kemudian Saul mengirim suruhan kepada Isai dengan pesan: “Suruhlah kepadaku anakmu Daud, yang ada pada kambing domba itu ”]. Perhatikan kata-kata terakhir, di kalimat ini, waktu terjadinya ayat di atas adalah ketika Daud baru diurapi menjadi raja. Seberes Daud diurapi jadi raja, ternyata Daud ngga sempet gembar-gembor ke temennya kalau dia suatu saat bakal jadi raja, ga sempet juga mampir ke istana untuk liat gimana tempat tinggal dia nanti, tapi apa yang Daud lakukan? Ya, orang yang berkenan di hati Allah ini kembali ke pekerjaan yang tampaknya kecil dan tidak berarti yang selama ini ia kerjakan dengan setia, menggembalakan domba-domba. Ini adalah suatu kesetiaan dan kerendahan hati yang Tuhan cari pada hamba-hamba-Nya.
Dan gimana sikap Daud sendiri dalam menggembalai kambing dombanya? 1 Samuel 17:34-36, [Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya, dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar .......”]. Kalau kita yang menggembalakan kambing domba itu, udah pasti kita kabur kalau ada beruang ato singa yang dateng nyerang. Toh separah-parahnya juga cuman domba yang mati, domba mati bisa beli lagi. Tapi sikap orang yang satu ini beda banget, biarin cuman domba, ia sadar sepenuhnya kalau itu adalah pekerjaan dan tanggung jawab dia, dan Daud ngerjain pekerjaan remeh ini dengan sangat-sangat luar biasa walaupun ga ada orang yang ngeliatin. Inilah kualitas yang Tuhan inginkan dari hamba-hamba-Nya. Bukan gagah, bukan beken, bukan kaya, bukan jenius, bukan keren, tapi suatu kualitas yang sederhana banget, yang semua orang pun bisa memilikinya, yaitu kerendahan hati dan kesetiaan baik itu dalam pekerjaan paling kecil sekali pun.
So, buat kita yang merasa kecil hati melihat orang-orang yang punya pekerjaan hebat, seperti direktur, manager, pengusaha kaya, auditor di kantor akuntan publik (mentang-mentang gw akuntan,hehe.), kita ga perlu kecil hati. Biarin kita cuman jadi kasir, teller di bank, karyawan biasa, bahkan tukang sapu mungkin, kerjakanlah pekerjaan-pekerjaan itu dengan luar biasa. Ga usah dengerin orang laen bilang apa, karena selalu ada Pribadi yang melihat kita dari tempat yang tersembunyi, yang selalu melihat hati. Mungkin Tuhan ingin mendatangkan suatu kebaikan lain dari pekerjaan remeh kita, seperti ia menjadikan Israel bangsa yang tersohor hanya dari seorang remaja penggembala domba yang menggembalakan domba-dombanya dengan setia. Apa yang dilihat Tuhan seringkali beda banget sama yang dilihat manusia.
So, gw mau ambil kesimpulan dengan mengutip kata-kata koko gw yg dimodifikasi sedikit:
“ Success have no correlation with being rich nor famous, success is fullfilling GOD’s will in our life...”

pit?? seriusan pit?hahaa..
ReplyDeleteseriusan apa nih bos maksudnya...?hahaha...
ReplyDelete